apahabar.com, BANJARMASIN - Datu Sanggul atau bernama Syekh Abdus Samad diketahui memiliki kedekatan khusus dengan Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Keduanya dipertemukan dalam sebuah kejadian ganjil, namun diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat Banjar.
Bagi saya, kata Humaidy, pembauran etnis yang dilakukan Datu Kelampayan, bertujuan untuk penyebaran dan syiar agama Islam yang lebih luas, dan terbukti hal tersebut berhasil, hingga Islam menyebar di tanah Banjar seperti sekarang ini.
Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari alias Datu Kalampayan adalah tokoh ulama besar kharismatik di Kalimantan Selatan maupun Indonesia, sekaligus pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Dilansir dari Kompas.com, karyanya hinga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut sebagai rujukan. Nama kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Agung di Banjarmasin, Jumat (6/5/2022).
Dikisahkan oleh Abah Guru Sekumpul, bahwasanya Datu Kalampayan adalah Khalifah Muthlaq dari Syaikh Semman Al-Madani. Dari semua murid Syekh Semman, cuma Datu Kalampayan yang mencapai derajat yang paling tinggi. Maka dari itu, Syekh Semman memberikan tongkat kewalian kepada Datu Kalampayan.
Nenek mereka yang bernama Syarifah adalah anak pertama Datu Kalampayan dari isteri pertama beliau yang bernama Tuan Bajut. 1. Al'Alimul 'Allamah H. Abu Tholhah Al-Banjari. Beliau adalah seorang cicit Datu Kalampayan yang sempat mendapat didikan langsung dari datuknya, sehingga mewaritsi ilmu-ilmu dari ayah dan datuknya.
Nama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau dikenal sebagai Datu Kelampayan menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indoensia.
4giV.